Thomas Nugroho

Searcing and Serving The Best

 

KOMPONEN DATA SOSIAL EKONOMI BUDAYA MASYARAKAT PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

 

Thomas Nugroho

Komponen Sosial Budaya

1. Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat pesisir terutama nelayan umumnya relatif rendah yakni tamat SD atau bahkan ada yang tidak tamat SD.

2.Kekerabatan
Masyarakat pesisir contohnya nelayan dalam melakukan usaha penangkapan ikan biasanya melibatkan sanak saudaranya. Walaupun dalam perekrutan anak buah kapal (ABK) menggunakan prinsip siapa yang mau tanpa melihat ada atau tidak hubungan kekerabatan, namun umumnya pelibatan ABK yang berasal dari keluarga atau suku yang sama akan lebih dekat daripada ABK yang berasal dari luar keluarga atau suku yanga berbeda.

3.Hubungan sosial
Hubungan sosial yang terbentuk antar masyarakat pesisir seperti nelayan umumnya mengikutsertakan anak maupun sanak famili mereka untuk melaut bersama. Pada jenis alat tangkap tertentu seperti pancing layur, ketika melaut ada dua orang yang terlibat, satu orang sebagai nahkoda dan seorang sebagai operator pancing.

4.Pembagian Kerja
– Ada pembagian kerja berdasarkan gender dalam komunitas nelayan. Kerja yang membutuhkan tenaga besar diperankan oleh laki-laki seperti nelayan, pedagang ikan serta buruh angkut. Sedangkan perempuan lebih banyak bekerja sebagai buruh industri pengolahan yang tersebar ke dalam beberapa industri serta pedagang (penjaga warung tempat nelayan beristirahat) serta usaha penjualan nasi dan kebutuhan melaut.
– Pembagian kerja nelayan, berdasarkan kepemilikan modal dan spesialisasi keterampilan. Bagi pemilik modal atau pemilik kapal, akan merekrut pengurus kapal yang dapat mengkoordinir segala kebutuhan kapal.
– Nelayan terbagi-bagi berdasarkan tugas dan ketrampilan yakni sebagai nakhoda, Kepala Kamar Mesin, Juru Masak, dan ABK.
– Umumunya nelayan terbagi dalam kategori nelayan penuh, sambilan utama dan sambilan tambahan.
– Pedagang ikan terbagi menjadi dua, yaitu pemilik lapak dan buruh.
– Adapun pengolah ikan merupakan pengolah dalam skala industri, sehingga pembagian kerjanya lebih komplek pula dengan pembagian spesialisasi keterampilan yang menjadi patokan utama.

5.Balas jasa
Resiprositas (system balas budi) umum terjadi dalam kehidupan nelayan. Hampir sebagian besar nelayan mempunyai ketergantungan terhadap pemilik modal (tauke/punggawa) sebagai orang yang memberi bantuan dana/modal kerja melaut. Keadaan tersebut tidak saling merugikan, tetapi sebaliknya saling menguntungkan. Nelayan terbiasa dengan system yang telah berjalan lama.
Ada pula sebagian nelayan yang mampu mengadakan sendiri dana yang diperlukan untuk kebutuhan melaut, namun jumlahnya sangat terbatas hanya nelayan yang bermodal.

6.Suku
Suku pada komunitas nelayan di wilayah barat Indonesia umumnya heterogen. Sedangkan komunitas nelayan di wilayah timur Indonesia biasanya homogen atau hanya dominan suku tertentu.

7.Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan baik di pemukiman nelayan umumnya tergolong buruk. Seperti kondisi lingkungan di sekitar PPSJ belum terkelola dengan baik. Banjir rob yang sering terjadi membawa serta limbah industri hasil pengolahan yang tentu saja mengganggu aktivitas masyarakat di dalam PPSJ.

8.Migrasi
Perpindahan penduduk/migrasi kerap kali terjadi di dalam komunitas nelayan. Hal tersebut terjadi karena berbagai alasan diantaranya yaitu mencari wilayah yang memiliki sumberdaya ikan yang melimpah atau kepentingan untuk mencari mata pencaharian lain untuk mendapat penghidupan yang layak.

9.Mata pencaharian alternatif
Selain mata pencaharian usaha penangkapan ikan, terdapat potensi pariwisata yang dapat menjadi mata pencaharian alternatif. Umumnya potensi pariwisata di wilayah pesisir pantai sangat besar namun belum dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan. Potensi pariwisata jika dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat nelayan disamping sebagai sumber pendapatan daerah serta dapat berdampak bagi penyerapan tenaga kerja lokal.

10.Kepercayaan
Aktivitas sosial yang terkait dengan kepercayaan sering dilakukan pada masyarakat nelayan. Kepercayaan tersebut berupa aktivitas adat istiadat yang diadakan setiap setahun sekali seperti sedekah laut dengan membawa berbagai macam sesajen. Aktivitas kepercayaan/keagamaan tersebut biasanya berupa kegiatan pengajian, kegiatan lain yang terkait dengan aktivitas melaut seperti tidak melakukan kegiatan penangkapan ikan pada hari-hari tertentu seperti jumat, hal ini dikarenakan mereka harus melaksanakan ibadah sholat jumat.

11.Agama
Agama yang mendominasi pada masyarakat nelayan biasanya Islam. Walaupun demikian dalam masyarakat nelayan memiliki tingkat keragaman yang tergolong tinggi. Seluruh agama yang diakui di Indonesia bahkan dari manca negara terdapat pemeluknya dalam komunitas nelayan.

Komponen Ekonomi

12. Pertumbuhan ekonomi
Perkembangan sektor usaha jasa dan non jasa di sekitar pelabuhan perikanan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Perkembangan sector usaha yang berkembang di wilayah pesisir misalnya sekitar pelabuhan perikanan seperti perdagangan ikan, bongkar muat kapal ikan, industri pengolahan ikan dll.

13. Mata pencaharian
Mata pencaharian utama masyarakat di wilayah pesisir adalah nelayan. Disamping sebagai pembudidaya ikan, pedagang, pengolah dan buruh di bidang perikanan.

14.Mobilitas
Mobilitas masyarakat nelayan berpindah dari satu daerah ke daerah lain sangat tinggi. Mobilitas tersebut sepenuhnya karena motif ekonomi mencari sumber/wilayah penangkapan ikan dan/atau daerah pemasaran hasil perikanan. Contohnya nelayan bubu jodang yang berasal dari Cirebon, yang menjadikan palabuhanratu sebagai tempat berlabuh ketika akan melakukan penangkapan di wilayah Banten. Mobilisasi nelayan ini terjadi pada bulan Juli sampai Desember.

15.Ketrampilan
Beragamnya alat tangkap yang beroperasi di wilayah pesisir, menyebabkan nelayan mampu menguasai berbagai macam alat tangkap. Dari pengalaman di lapangan, diketahui bahwa ada beberapa nelayan yang mampu mengoperasikan pancing rumpon, gillnet, payang dan rawai layur. Sehingga nelayan mampu mengoperasikan alat tangkap tersebut secara bergantian menurut keuntungan yang biasanya diperoleh dari penggunaan suatu alat tangkap.

16.Kesempatan usaha
Jenis usaha yang banyak dilakukan oleh penduduk lokal adalah usaha perikanan (nelayan), perdagangan, jasa, dan budidaya. Penduduk pendatang di umumnya bekerja di sektor usaha jasa dan niaga, seperti membuka perusahaan pengekspor hasil perikanan laut, usaha jasa perhotelan, diskotek, biliar, dan pariwisata.

17.Penyelesaian sengketa
Dalam kehidupan masyarakat nelayan sering diwarnai oleh permasalahan antar individu dan/kelompok nelayan seperti konflik perebutan daerah tangkapan ikan. Namun demikian konflik yang terjadi biasanya hanya berlangsung sewaktu di laut saja, ketika tiba di darat permasalahan yang timbul dapat diselesaikan dengan baik. Apabila terjadi masalah antar nelayan, umumnya diselesaikan secara musyawarah untuk mencapai mufakat, tanpa mengucilkan pihak yang terlibat. Namun apabila terjadi konflik antara nelayan dengan pemerintah akan diselesaikan secara hukum.

18.Gaya hidup konsumtif
Hampir disemua lapisan masyarakat nelayan memiliki ciri khas/sifat yang cenderung konsumtif. Pembelian barang-barang diluar kebutuhan pokok seperti elektronik, perhiasan dll sering dilakukan pada saat terjadi peceklik. Jalan pintas yang bisa dilakukan adalah dengan berhutang pada pemilik modal/tauke/punggawa. Kondisi tersebut biasanya membuat nelayan sangat tergantung pada pemilik modal/tauke/punggawa.

19.Pola kepemilikan sumberdaya
Pola kepemilikan unit penangkapan ikan (UPI) berbeda dengan pola kepemilikan Daerah Penangkapan Ikan (DPI). Pola kepemilikan DPI lebih banyak dikuasai oleh beberapa individu. Ciri penguasan DPI adalah adanya rumpon yang beroperasi di DPI. Keberadaan rumpon ini sepertinya masih belum diatur, karena dari tahun ketahun jumlahnya semakin bertambah tanpa bias dikendalikan. Hal ini berdampak buruk pada beberapa alat tangkap, misalnya gillnet yang terkena imbas dari penambahan rumpon. Kapal yang mengoperasikan gillnet dari tahun ke tahun mengalami pengurangan yang cukup drastis.

20.Pola kepemilikan modal
Kepemilikan modal berupa unit penangkapan ikan seperti kapal dan alat tangkap ikan terbagi dalam bentuk yaitu: 1) kepemilikan penuh. Dalam hal ini pengadaan unit penangkapan ikan dan biaya operasi penangkapan ikan dibiayai sepenuhnya oleh nelayan pemilik. 2) Pengadaan unit penangkapan ikan dan biaya operasi penangkapan ikan dibiayai sepenuhnya oleh nelayan pemilik, namun biaya operasi penangkapan ikan dan biaya pemeliharaan kapal termasuk mesin kapal dan alat tangkap berhutang kepada pemodal/tauke/punggawa. 3) kepemilikan dengan modal sebagian besar dari pemodal/tauke/punggawa. Nelayan akan mengembalikan biaya pembelian unit penangkapan dengan cara mengansur dari hasil tangkapan.

21.Teknologi penangkapan
Teknologi unit penangkapan ikan yang digunakan nelayan umumnya masih terbilang sederhana sehingga daerah operasi penangkapan ikan tidak jauh hanya berkisar 2-5 mil dari PPI. Selain itu produksi ikan yang selama ini dihasilkan dari hasil tangkapan nelayan belum mampu memenuhi kebutuhan komsumsi ikan masyarakat maupun bahan baku industri pengolahan.

22.Kesempatan usaha
Kesempatan usaha yang ada di wilayah pesisir masih sangat terbuka. Jenis usaha yang ada masih sangat sedikit yakni hanya terbatas pada kios-kios yang menjual makanan kecil dan kebutuhan melaut seperti rokok sehingga masih terbuka kesempatan usaha baru yang lebih menguntungkan.
Hasil tangkapan ikan, misalnya di pelabuhan perikanan cukup banyak dan berkualitas/segar. Kondisi tersebut dapat mendorong tumbuhnya wisata kuliner berupa usaha warung makan yang menyajikan berbagai menu ikan seperti ikan bakar dll sehingga menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk datang ke PPI. Selain itu dapat pula mendorong tumbuhnya industri-industri pengolahan ikan, disamping usaha-usaha lain yang mendukung kegiatan operasi penangkapan seperti usaha penjualan perlengkapan unit penangkapan.

23.Lama melaut
Umumnya nelayan menangkap ikan dengan pola trip one day fishing. Namun ada beberapa nelayan yang tripnya lebih dari satu hari bahkan sampai berbulan-bulan, seperti pemancing ikan Tenggiri dan ikan Cakalang

24.Distribusi hasil tangkapan
Biasanya nelayan yang tripnya hanya satu hari, hampir semua hasil tangkapan utamanya dijual kepada tauke/punggawa. Setiap nelayan mempunyai tauke/punggawa tersendiri. Sementara hasil tangkapan sampingan (by catch) langsung dijual ke pedagang bakul keliling yang ada di PPI.

25.Sistem bagi hasil
Sistem bagi hasil yang berlaku bagi nelayan dengan ABK di umumnya 50% : 50% setelah dikurangi dengan seluruh biaya operasional penangkapan ikan, bagian kapal dan alat tangkap. 50% bagian diperuntukkan untuk pemilik dan 50% bagian lagi diperuntukkan untuk ABK.
Disamping itu ada pula sistem bagi hasil antara nelayan dengan tauke/punggawa. Tauke/punggawa menetapkan harga yang lebih rendah terhadap nelayan dibanding dengan harga pasar. Penjualan hasil tangkapan yang didaratkan biasanya tidak langsung dibayar tunai.

 

No Responses to “KOMPONEN DATA SOSIAL EKONOMI BUDAYA MASYARAKAT PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL”

 

Leave a Reply