Thomas Nugroho


Isu Cantrang milik siapa?
Monday April 23rd 2018, 3:47 pm
Filed under: Popular articles

Oleh : Thomas Nugroho*)

(Artikel ini telah diposting di laman https://incrapindonesia.wordpress.com/2017/11/26/cantrang-milik-siapa/ pada 26 Nopember 2017 saat polemik pelarangan cantrang oleh KKP)

Masyarakat pada umumnya mungkin tidak tahu apa itu cantrang. Tapi tidak bagi masyarakat nelayan di pantai utara (pantura) Pulau Jawa. Cantrang merupakan jenis alat penangkap ikan sejenis pukat yang biasa digunakan nelayan di pantura Pulau Jawa.

Cantrang menjadi hot issue sejak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan regulasi larangan penggunaannya, sebab alat tersebut diketahui dapat menangkap berbagai jenis dan ukuran ikan sehingga dikenal sifatnya sebagai alat yang tidak selektif dan tidak ramah lingkungan.

KKP melarang penggunaan cantrang dipahami sebagai upaya menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan melindungi kepentingan nelayan di masa mendatang. Sebab penggunaan alat cantrang diakui memberikan tekanan pada ekosistem sumberdaya ikan. Menurut para ahli, sumberdaya ikan di perairan laut pantura Pulau Jawa mengalami over fishing.

Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh KKP tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari masyarakat. Ada sebagian kelompok masyarakat yang keberatan terhadap larangan penggunaan cantrang. Alasannya cantrang telah menjadi bagian dari kehidupan nelayan. Larangan tersebut diklaim dapat menghilangkan kesempatan berusaha dan mata pencaharian nelayan.

Dua situasi diatas membuat cantrang menjadi isu yang seksi. Apalagi di masyarakat belum ada kesamaan sikap dan kepentingan dalam mengatasi penggunaan alat cantrang. Yang menarik, saat ini isu cantrang bukan milik nelayan saja, tetapi telah menjadi milik publik. Bahkan ada banyak pihak yang mengambil manfaat dari isu cantrang sesuai kepentingannya.

Polemik mengatasi penggunaan cantrang tidak kunjung tuntas karena belum terbangun trust, disamping pokok masalahnya belum terjawab, serta belum ada kesepahaman tentang dua hal yaitu;

Pertama, apa benar sumberdaya ikan di pantura Pulau Jawa dalam kondisi kritis atau overfishing, dan apakah itu karena nelayan pengguna cantrang. Kedua, apa benar penggunaan cantrang dapat menimbulkan kerusakan ekosistem dan lingkungan sumberdaya ikan.

Jalan keluar

Untuk mengatasi polemik penggunaan cantrang, pendekatannya tidak hanya regulasi dan penegakan hukum semata. Tetapi perlu membangun lebih dulu trust antar kelompok dalam masyarakat dan membuktikan apa betul penggunaan cantrang itu dapat menimbulkan masalah lingkungan.

Kajian perlu dilakukan oleh lembaga penelitian yang independen dan kredibel untuk menjawab berbagai keraguan tentang dampak cantrang terhadap kondisi ekosistem sumberdaya ikan maupun sosial ekonomi nelayan saat ini dan dimasa mendatang.

Tantangan terberatnya adalah minimnya ketersediaan data hasil tangkapan ikan yang menggunakan cantrang pada kurun waktu tertentu. Dan akan bertambah sulit apabila cantrang dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik dan bisnis.

Cantrang bukan hanya milik nelayan, tetapi juga milik berbagai pihak yang bermain untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Harapannya KKP tetap konsisten pada kepentingannya, yaitu menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan melindungi keberlanjutan usaha nelayan melalui pengaturan penggunaan alat tangkap di seluruh perairan laut Indonesia. Dan tidak pula terjebak atau berkompromi dengan berbagai kepentingan yang justru dapat merugikan nelayan. Semoga.

*) Penulis Dosen Departemen PSP FPIK IPB dan Penggiat INCRAP

(Tulisan yang disampaikan adalah pendapat pribadi)



Anisakis di Ikan Laut Merupakan Fenomena Alami
Wednesday April 04th 2018, 12:09 am
Filed under: News

Temuan cacing Anisakis sp. dalam sejumlah merek produk ikan makarel kalengan belum lama ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Dosen Perikanan UGM, Dr. Eko Setyobudi, menyampaikan kemunculan anisakis dalam ikan laut merupakan hal yang biasa.

“Keberadaan anisakis di ikan laut merupakan fenomena biasa yang terjadi secara alami,” jelasnya, saat ditemui diruang kerjanya di Departemen Perikanan UGM, Selasa (3/4).

Eko mengatakan anisakis merupakan kelompok nematoda dari famili Anisakidae yang umum ditemukan sebagai parasit pada berbagai jenis ikan laut di seluruh dunia. Sementara itu, penyebarannya melibatkan krustasea, ikan, cumi-cumi, maupun mamalia laut sebagai inang.

Secara umum siklus hidup anisakis dicirikan dengan 4 kali moulting. Hanya stadia larva-2 yang bersifat hidup bebas dalam perairan dan akan berubah menjadi larva-3 setelah masuk dalam tubuh krustasea laut karena proses pemangsaan. Anisakis yang menginfeksi ikan atau cephalopoda berada dalam tahap larva-3 dengan ukuran kurang lebih 2-4 cm. Sementara untuk tahap anisakis dewasa hanya ditemukan pada mamalia laut.

Eko menjelaskan bahwa infeksi anisakis dalam organisme laut telah diteliti dalam beberapa studi dan sejumlah besar spesies ikan dan cephalopoda rentan terhadap infeksi nematoda ini. Sampai saat ini tidak kurang dari 200 jenis ikan dan 25 jenis cephalopoda telah dilaporkan terinfeksi anisakis. Adapun jenis ikan yang banyak dilaporkan terinfeksi adalah Atlantic Mackerel, Horse Mackerel, Blue Mackerel, Indian Mackerel, dan Hering.

“Hasil penelitian Departemen Perikanan UGM juga menunjukkan bahwa beberapa spesies ikan di Samudera Hindia Selatan Jawa juga terinfeksi oleh nematoda in,” jelas pria yang fokus menekuni penelitian anisakis sejak 2006 ini.

Anisakis terdiri dari banyak spesies dan beberapa diantaranya diyakini hanya terdistribusi dalam area terbatas. Eko mencontohkan pada Anisakis simplex lebih banyak ditemukan di belahan bumi utara bagian barat dan timur Samudera Atlantik dan Pasifik. Namun, Anisakis simplex kadang ditemukan di perairan barat Mediterania, khususnya pada ikan pelagis yang melakukan migrasi dari Atlantik. Sedangkan anisakis yang teridentifikasi di Samudera Hindia Selatan Jawa adalah Anisakis typica.

“Tingkat prevalensi dan intensitas infeksi Anisakis sp. terhadap suatu jenis ikan sangat dipengaruhi oleh wilayah geografis, habitat dan musim. Namun, ikan yang hidup atau bermigrasi ke daerah endemik anisakis berpeluang lebih besar terkena infeksi,” jelas pria yang meraih doktor dari Ganeung-Wonju National University, Korea ini.

Prevalensi dan intensitas infeksi cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan ukuran atau usia ikan. Anisakis dapat hidup pada rongga perut, saluran pencernaan, organ tubuh bahkan dalam daging, dengan preferensi yang berbeda untuk setiap jenis inang.

Eko mengungkapkan di negara-negara maju, salah satunya Kanada, ikan yang telah diketahui mempunyai prevalensi larva anisakis yang tinggi akan diperiksa keberadaan nematodanya pada saat pengolahan. Daging ikan dengan infeksi berat akan dilakukan pemotongan bahkan dibuang. Proses seleksi ini dilakukan untuk menghindari kerugian ekonomi dan mencegah anisakis pada manusia.

Untuk mengurangi risiko keberadaan anisakis dalam industri pengolahan ikan, Eko menekankan pentingnya memastikan ikan bahan baku yang diperoleh bukan berasal dari wilayah dan musim musim penangkapan yang bebas dari infeksi anisakis. Selain itu, juga perlu dilakukan sampling terhadap bahan baku akan kemungkinan infeksi nematoda dan melakukan prosedur standar operasional penanganan bahan baku yang dicurigai terinfeksi dengan membuang bagian yang terinfeksi.

Cacing Mati Saat Proses Pengalengan

Pakar Keamanan Pangan, Prof. Endang Sutrisnawati Rahayu, saat dihubungi secara terpisah menyebutkan cacing anisakis pada ikan makarel kalengan dipastikan mati dan tidak membahayakan kesehatan manusia jika dikonsumsi. Pasalnya, cacing akan mati setelah melalui berbagai proses pengalengan sesuai dengan standar.

‘’Konsumsi bahan makanan yang mengandung parasit mati tidak membahayakan bagi kesehatan tubuh. Hanya saja dari segi estetika cacing memang sebaiknya tidak ada dalam ikan,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Trisye, sapaan akrab Endang Sutrisnawati Rahayu, pada proses pengalengan memiliki persyaratan thermal untuk memastikan seluruh mikroorganisme yang ada di bahan pangan yang diolah seluruhnya mati, termasuk endopsora bakteri yang sering dipakai sebagai tolak ukur karena paling tahan dengan panas. Dengan demikian, pada proses pengalengan yang dilakukan sesuai dengan persyaratan yang ada dapat dipastikan aman bahkan hingga masa kadaluwarsa.

“Dalam proses sterilisasi untuk membunuh endospora saat pengalengan dilakukan di suhu lebih dari 121 °C. Kalau endospora saja sudah mati maka mikroorganisme serta parasit atau larva yang ada dalam bahan makanan yang diolah dipastikan juga sudah mati duluan,”tegasnya.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM ini mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi kejadian ini. Kasus ikan makarel kalengan yang bercacing ini diharapkan tidak menjadikan masyarakat takut untuk mengonsumsi ikan laut.

“Yang terpenting adalah diperhatikan dalam mengolah dan memasak ikan laut dengan sempurna,” katanya.

Yang harus diperhatikan, lanjutnya, justru pada ikan yang dikonsumsi mentah atau setengah matang. Menurutnya, perlu dilakukan kontrol terhadap bahan bakunya. Sebab, memasak ikan laut tanpa panas atau panas yang kurang tidak akan mematikan larva cacing dan bisa menyebabkan penyakit.

Trisye juga mengimbau industri pengalengan ikan untuk melakukan update standar operasional produk (SOP) pada Good Manufacturing Practice (GMP) maupun Hazard Analysis and Critical Control Point (HCPP) dan melakukan validasi kecukupan panas dengan memperhatikan keberadaan nematoda pada bahan baku yang diolah.

Sebelumnya, BPOM merilis temuan sebanyak 27 merek produk ikan makarel kalengan yang dinyatakan positif terdapat cacing parasit jenis Anisakis sp. BPOM telah melakukan pengawasan dengan menarik merek-merek tersebut dari pasaran di berbagai wilayah Indonesia. (Humas UGM/Ika)

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/15976-keberadaan.anisakis.di.ikan.laut.merupakan.fenomena.alami



Teknologi KJA offshore
Tuesday April 03rd 2018, 8:44 pm
Filed under: News

KKP melakukan kerjasama pengembangan teknologi keramba jaring apung offshore dengan Norwegia. Langkah ini menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi agar masyarakat nelayan diperkenalkan teknologi budidaya laut agar tidak selalu bergantung menangkap ikan di laut. Ini juga untuk mengurangi tekanan pemanafaatan sumberdaya perikanan yang cenderung mengalami overfishing.

Juga mengajak masyarakat nelayan yang semula menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti cantrang dan trawl agar mau mengubah pola usahanya serta menekuni usaha budidaya perikanan laut.

Ujicoba tahap awal teknologi Keramba Jaring Apung (KJA) Offshore dilakukan di Pangandaran, Karimun Jawa dan Sabang. Lokasi KJA sekitar 2-3 mil dari bibir pantai. (Sumber :https://t.co/4th3wW9GiF)

IMG_20180403_195939

IMG_20180403_195945



Kapal Malika Mmuhit
Tuesday April 03rd 2018, 8:00 pm
Filed under: News

Kementerian Kelautan dan Perikanan berencana memberikan hibah Kapal Malika Mmuhit sebanyak 100 unit kepada nelayan-nelayan di Natuna, Ambon & Fak Fak. Kapal yang akan didistribusikan tersebut berdimensi panjang 9.2 m, lebar 1.2 m, dalam 70 cm. Diperuntukan nelayan-nelayan yang beroperasi one day fishing.
(Sumber : https://t.co/rv9enwYvDe)



Cacing dalam Ikan Kaleng
Monday April 02nd 2018, 11:47 am
Filed under: News

Masyarakat dihebohkan dengan ditemukannya cacing dalam ikan kaleng. Ada 27 jenis Ikan Kaleng yang beredar dipasaran diduga mengandung Cacing. Dari informasi yang beredar di media online maupun media sosial ada dua pendapat yang saling bertolak belakang. Menurut Menteri Kesehatan dalam media online Kompas 02/04/2018 (https://regional.kompas.com/read/2018/03/31/07182501/menkes-cacing-di-makarel-kaleng-tak-berbahaya-asal-diolah-dengan-benar) cacing dalam ikan makarel kaleng tidak berbahaya asal sebelum dimakan dimasak atau diolah dengan benar. Ikan harus dimasak atau dipanaskan terlebih dahulu dengan suhu >70 derajat celsius. Pada suhu tersebut cacing akan mati.

Sementara ada pendapat lain dari kalangan akademisi yang mengatakan bahwa Ikan Makarel kemasan kaleng yang mengandung cacing berbahaya bila dikonsumsi. Meskipun cacing tersebut akan mati bila dipanaskan dalam suhu >70 derajat celsius, tetap berbahaya karena dalam daging cacing tersebut mengandung ” A Simplex” yang berpotensi menjadi allergen, bahkan juga berpotensi menghasilkan racun yang bersifat karsinogenik. Informasi bahaya cacing dalam ikan kaleng bisa diakses dalam link berikut https://www.facebook.com/mspipb/posts/1942702522726879.

Fenomena cacing dalam ikan kaleng menimbulkan kecemasan dalam masyarakat, dan akan berdampak pada menurunnya minat masyarakat mengkonsumsi ikan, khususnya ikan kaleng. Dan ini juga akan mengganggu perkembangan industri pengolahan perikanan nasional. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan harus melakukan tindakan cepat untuk mengatasi permasalahan cacing dalam ikan kaleng.